"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah PENULIS"
[Imam Al-Ghazali]

Senin, 19 Desember 2011

POTRET PELAYANAN KESEHATAN INDONESIA

Sering kali kita mendengar berita bahwa telah terjadi mal praktek di sebuah rumah sakit yang dilakukan oleh dokter. Hal itu membuktikan bahwa semakin menurunnya kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Sebuah penelitian mencatat bahwa 58 persen kasus kematian ibu hamil terjadi di rumah sakit pemerintah. Padahal sosialisasi tentang kesehatan ibu hamil gencar dilakukan. Namun, kasus kematian ibu hamil justru menunjukkan grafik meningkat jika dibandingkan setiap tahunnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan diperoleh bahwa hingga Oktober lalu angka kematian ibu diperkirakan mencapai 105 per 100 kelahiran hidup. Suatu jumlah yang sangat memprihatinkan lebih dari 100 persen kelahiran hidup terdapat ibu hamil yang meninggal.
Peningkatan angka kematian ibu hamil ini sangat  meresahkan. Padahal pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu hamil itu. Tetapi kok malah meningkat setiap tahunnya. Lebih parahnya lagi, 58 persen kenatian ibu hamil terjadi di rumah sakit ppemerintah. Kematian ibu hamil di rumah sakit swasta hanya sekitar 17,39 persen. Ada sebuah cara untuk mengatasi hal ini, yaitu dengan menggunakan proses antenatal care(ANC) yang berlangsung baik dan kelainan atau penyakit pada ibu maupun bayi sudah dideteksi sejak dini sehingga kematian ibu hamil bisa ditekan.
Terdapat beberapa penyebab mengapa angka tertinggi kematian ibu hamil terjadi di rumah sakit, yaitu masalah tenaga kesehatan. Apabila dilihat dari jumlahnya dapat dikatakan belum ideal, selain itu pengabdian dan tanggung jawan para tenaga kesahatan juga kurang. Di desa-desa terutama yang kekurangan tenaga kesehatan karena daerahnya sulit dijangkau sehingga para ibu hamil kebanyakan tidak mengontrol kondisi kehamilannya, disisi lainjuga kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Masalah lain yaitu pada kompetensi para tenaga kesehatan yang belum memenuhi standar minimum sebagai tenaga kesehatan. Berdasarkan data pelaksanaan uji kompetensi, ternyata 30 persen tenaga kerja yang dinyatakan tidak lulus. Selain masalah pada tenaga kesehatan juga kurang tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Sehingga apabila terjadi masalah pada persalinan, pasien tidak bisa segera ditangani. Akhirnya pasien dirujuk ke rumah sakit kabupaten atau kota yang terdekat. Masih ada hal lain yang mengakibatkan meningkatnya kematian ibu hamil yaitu belum tertatanya system rujukan.
Masalah-masalah di atas seharusnya menjadi perhatian oleh pemerintah karena kualitas kesehatan juga menentukan tingkat kemakmuran suatu Negara. Selain pemerintah, masyarakatnya sendiri juga harus memanfaatkan program jaminan persalinan (jampersal). Bukan hanya karena biaya yang gratis, jampersal juga membuat para ibu hamil rajin memerikasakan kandungannya ke bidan. Minimal  dilakukan empat kali selama kehamilan hingga persalinan. Sehingga apabila ada masalah, baik dari ibu maupun bayinya, petugas kesehatan bisa mengantisipasi sejak dini dan bisa mengetahui apa saja yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

1 komentar:

  1. ini bisa dijadikan referensi untuk koreksi pemerintah,,,, mau maju gimana kalau oknumnya masih banyak yang kayak gini

    BalasHapus