"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah PENULIS"
[Imam Al-Ghazali]

Senin, 28 November 2011

ANEH, KENAPA TIDAK???


Setiap jurusan pasti punya karakteristik-karakteristik tersendiri jika dilihat dari semua sudut yang ada. Hal itu merupakan suatu hal yang wajar karena setiap jurusan harus memiliki suatu identitas yang bisa membuatnya beda dengan jurusan-jurusan yang lain. Salah satunya adalah jurusan Sistem Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Jurusan ini termasuk yang paling beda dengan yang lain atau bisa juga kita sebut paling unik. Banyak hal yang membuatnya unik dan beda terutama yaitu pada salah satu mata kuliahnya. KI (Keterampilan Interpersonal) adalah mata kuliah yang hanya ada di jurusan Sistem Informasi. Mata kuliah ini mengajarkan kepada kita bagaimana cara yang baik untuk berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Kalau dilihat dari namanya memang persepsi kita mungkin hanya biasa-biasa saja, tetapi setelah melihat bagaimana proses belajarnya pasti kita akan tertarik.
Kalau boleh jujur pada awalnya saya tidak terlalu berminat dengan jurusan ini dan sempat merasa salah jurusan karena memang dari dulu saya tidak berniat untuk kuliah di jurusan yang berbasis IT. Awalnya saya mengira bahwa jurusan Sistem Informasi itu kerjaanya hanya di depan komputer dan pastinya mata kuliahnya pun mata kuliah yang hanya membutuhkan otak kiri. Tetapi ternyata apa yang selama ini saya anggap salah besar karena di sini ada mata kuliah yang bekerja dengan otak kiri ada juga yang menggunakan otak kanan. Di jurusan Sistem Informasi pastinya ada mata kuliah yang menuntut kita untuk bekerja di depan komputer selama  berjam-jam karena memang berbasis IT, tetapi ada juga hal lain yang membuat saya tertarik dan tidak merasa salah jurusan lagi. Hal itu adalah mata kuliah Keterampilan Interpersonal. Ada 2 macam dalam matkul ini, yaitu outdoor dan indoor. Outdoor mengajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain melalui lisan sedangkan indoor mengajarkan interaksi melalui tulisan. Sebenarnya yang paling membuat saya tertarik adalah yang outdoor karena kegiatannya bermain game, tetapi tentunya bukan sembarang game yang dimainkan. Banyak sekali  pembelajaran yang dapat diambil dari permainan-permainan itu. Apabila dilihat dari luarnya saja pasti kita akan beranggapan negatif dengan hal itu. Banyak teman saya dari jurusan lain yang mengatakan bahwa jurusan Sistem Informasi itu aneh dan tidak jelas, kuliahnya hanya main game dan bersantai-santai. Tetapi ada juga yang ingin masuk SI setelah mengetahui ada mata kuliah KI.
Ada satu hal lain lagi yang membuat SI beda, yaitu setiap jum’at pagi ada senam yang juga termasuk dalam mata kuliah KI. Orang- orang pasti tertawa apabila ada senam di jurusan SI karena mereka yang dari jurusan lain sama sekali tidak ada mata kuliah yang menyangkut olahraga. Mereka merasa aneh dengan pelajaran olahraga yang notabene hanya dilakukan oleh para siswa bukan mahasiswa. Sebenarnya dengan adanya senam itu sangat bermanfaat bagi para mahasiswa SI, tapi sayang sekali senam ini menjadi mata kuliah hanya pada semester pertama. Untuk mahasiswa semester satu ke atas tidak ada mata kuliah ini, tetapi senam ini terbuka untuk siapa saja  yang ingin mengikutinya tanpa terkecuali mahasiswa lama dan mahasiswa jurusan lain, dosen pun juga boleh ikut. Tujuan diadakannya senam ini adalah sebagai salah satu upaya untuk menjaga kesehatan para mahasiswa yang sebagian besar atau bahkan bisa dikatakan mereka semua jarang sekali yang memperhatikan kesehatan karena banyak tugas dan kegiatan yang harus mereka kerjakan. Banyak sekali mahasiswa ITS yang dalam tes lowongan  pekerjaan sudah lolos tes akademik tetapi gugur saat tes kesehatan. Hal ini membuktikan bahwa kebanyakan dari para mahasiswa hanya memperhatikan kualitas intelektual tanpa memperhatikan kesehatan yang juga sangat penting, padahal dalam dunia kerja tidak hanya intelektual yang diperlukan tetapi juga harus disertai dengan kesehatan yang baik. Pada kenyataannya orang yang sangat cerdas tetapi tidak sehat maka orang itu tidak akan bisa bekerja secara maksimal.
Menurut saya, sebaiknya mata kuliah Keterampilan Interpersonal itu tidak hanya ada di semester satu tetapi seharusnya juga ada di semester-semester selanjutnya. Sebab semakin tinggi semerternya maka pelajaran yang dihadapi juga semakin berat, pasti para mahasiswa membutuhkan satu wadah untuk refreshing. Salah satu wadah untuk refreshing itu adalah di pelajaran KI ini. Selain itu, KI juga menjadi ajang untuk mengembangkan otak kanan kita karena para mahasiswa bisa bebas berkreatifitas dan menyalurkan bakatnya hanya di mata kuliah KI ini. Sebenarnya di mata kuliah lain juga bisa, tetapi tidak sebebas di KI. Semakin lama kita mendapatkan pelajaran KI, maka kemampuan kita dalam berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain akan semakin terasah.

MENULIS POPULER


Seperti kita tahu bahwa kebanyakan orang merasa kesulitan apabila disuruh menyampaikan opini dalam bentuk tulisan atau membuat suatu karya tulis, seperti berita, resensi, artikel dan lain-lain. Tetapi sebenarnya apabila kita mau dan berusaha untuk belajar menulis dan mencari tahu bagaimana cara menulis yang baik serta bagaimana cara menumbuhkan semangat untuk menulis saya yakin bahwa pasti kita akan dapat menulis. Memang semua hal pasti ada prosesnya, tidak bisa langsung menghasilkan tuisan yang baik. Tetapi apabila kita mau mencobanya terus dan belajar dari setiap kesalahan yang pernah kita buat pasti lama-kelamaan kualitas tulisan kita akan meningkat dan semakin membaik. Pada hakekatnya semua orang bisa menghasilkan sebuah tulisan, tetapi kualitas tulisan setiap orang pasti berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman menulis dan seberapa banyak serta seberapa luas pengetahuan yang dimiliki oleh penulis. Orang yang sudah bertahun-tahun menggeluti bidang menulis akan berbeda dari segi kualitas tulisannya dengan orang yang baru saja menghasilkan tulisan atau yang bisa disebut pemula.
            Dalam bidang menulis ada yang dinamakan menulis populer, yang dimaksud menulis populer adalah menulis yang nantinya akan menghasilkan tulisan yang berupa artikel, berita, resensi atau tulisan yang berbau non fiksi tetapi tidak termasuk hasil penelitian ilmiah. Seperti halnya menulis jenis karya-karya tulis yang lain, dalam menulis popular kita juga  harus memperhatikan unsur-unsur tulisan yaitu pembuka, isi dan penutup. Bagian pembuka berisi perkenalan atas topik atau permasalahan yang akan dibahas selanjutnya, latar belakang atau sebab mengapa membahas tentang permasalahan tersebut dan pembahasan umum tentang permasalahan. Pada bagian isi biasanya dibahas secara detail permasalahan yang menjadi topik utama dan bagian inilah yang mendominasi sebuah tulisan. Kemudian yang terakhir adalah bagian penutup, bagian ini berisi tentang kesimpulan, pesan penulis serta kata-kata pamitan dari penulis.
            Sebuah karya tulis populer yang sederhana sebaiknya berisi paragraf-paragraf yang terdiri dari kalimat-kalimat yang sederhana sehingga para pembaca dapat memahaminya dengan mudah. Paragraf yang sederhana memiliki beberapa ciri yaitu kalimat baku dengan maksimal 15 kata tiap kalimat, menggunakan rumus Subjek, Predikat, Objok dan Keterangan (SPOK), struktur tulisan dalam paragraph menggunakan pola problem-solusi atau sebab-akibat.
            Dari segi orientasi pembaca kita harus memperhatikan beberapa hal, seperti berempati, mudah dipahami, jangan menyiksa, berpikir bahwa pembaca sangat beragam, dan bereksperimen kecil. Berempati maksudnya seorang penulis harus mengetahui pembaca yang akan membaca tulisannya. Tujuan kita menulis adalah menyampaikan suatu informasi kepada pembaca sehingga seharusnya tulisan yang kita buat mudah dipahami oleh pembaca yang pastinya sangat beragam apabila dilihat dari segi pendidikan, umur, pengetahuan, pengalaman, kecerdasan dll. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa dimengerti oleh berbagai kalangan apabila dimuat di media masa tetapi ada juga tulisan yang hanya ditujukan oleh kalangan tertentu. Sebuah tulisan yang bertele-tele dan rumit akan mengurangi pemahan pembaca dan membuat mereka tidak nyaman membaca tulisan kita. Untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas dari segi isi kita memerlukan sebuah eksprimen kecil untuk menghasilkan data-data yang konkret. Eksperimen yang dimaksud di sini tidak harus eksperimen ilmiah tetapi lebih kepada analisis terhadap suatu permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar kita.
            Para remaja sekarang cenderung lebih suka menggunakan istilah-istilah asing dalam menulis, padahal hal itu akan mengurangi pemahaman pembaca apabila terlalu banyak. Biasanya untuk menutupi kekurangan-kekurangan dalam menulis para penulis menggunakan istilah-istilah yang lebih banyak. Apabila ingin menggunakan istilah asing sebaiknya menggunakan istilah yang sudah sering digunakan atau populer, reliable dan rasional. Di saat kita menggunakan istilah asing yang jarang diketahui artinya oleh pembaca maka hal itu akan membuat tulisan kita sia-sia karena tujuan penulisan yang semula sebagai salah satu media untuk menyampaikan informasi menjadi tidak efektif lagi. Selain itu sekarang juga sedang populer menggunakan jargon, singkatan dan akronim. Hal itu tidak dilarang tetapi apabila digunakan secara berlebihan akan menghambat proses komunikasi yang sedang berlangsung antara penulis dan pembaca. Penggunaan akronim dan jargon juga dapat membiaskan isi atau substansi dari sebuah tulisan karena maknanya menjadi ambigu dan tidak jelas. Hal ini bisa membuat para pembaca merasa kebingungan.
Sebuah permasalahan dikupas secara  rinci dan detil sehingga pembaca dapat memperoleh informasi secara jelas dan tidak menyebabkan ketidakpahaman. Apabila terdapat angka dalam tulisan tersebut sebaiknya disederhanakan untuk menghindarkan dari kesan rumit. Hal yang perlu dihindari adalah penjelasan yang tidak masuk akal karena tulisan popular adalah tergolong tulisan non fiksi sehingga semua penjelasan dan data-data yang disampaikan harus logis. Analogi-analogi yang disampaikan juga harus jauh dari kesan rumit sehingga harus sederhana agar mudah dipahami.
Diantara resensi, opini , berita yang paling mudah dibuat adalah opini karena opini adalah pendapat atau kesan kita terhadap suatu permasalahan sehingga semua isi dari opini tersebut sesuai kehendak kita. Opini juga harus berdasarkan data-data yang nyata dan dapat dibuktikan sehingga pembaca akan setuju dan yakin dengan pendapat yang kita sampaikan. Sesuai kehendak bukan berarti kita bisa menulis sebebas-bebasnya, tentu saja ada batasan-batasan yang perlu kita perhatikan., seperti tidak menyinggung SARA. Ada beberapa tips untuk menulis sebuah opini, yang pertama adalah membat kerangka tulisan. Kerangka tulisan dapat membantu kita dalam mengarahkan pembahasan tulisan kita. Yang kedua kenali gaya selingkung atau gaya bahasa media masa yang akan dituju. Kemudian buatlah judul yang agigatif atau dapat mempengaruhi pembaca untuk tertarik membaca, sertakan data sderhana sebagai pendukung, masukkan kutipan singkat dari tokoh yang menulis hal serupa di media masa beberapa hari sebelumnya, berikan data yang sedikit menjual.
           

MELIRIK KONTROVERSI ANAK JALANAN

Sebuah film terbaik kembali hadir meramaikan kancah perfilman Indonesia , yaitu Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film ini dimainkan oleh Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Miharja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia, dan Angga. Film yang disutradarai ole Dedy Mizwar ini mengungkap banyak bidang permasalahan yang sedang dihadapi oleh Negeri kita tercinta (Indonesia), seperti ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kriminalitas, generasi muda, agama, pengangguran, kekerasan, dan semangat materialism. Meskipun yang diungkap cukup banyak tetapi film ini juga banyak disertai dengan humor-humor yang bisa menghibur penontonnya dan membantu penonton untuk lebih mudah dalam menyerap pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini, sehingga para penikmat film ini tidak akan merasa jenuh dan bosan saat menonton film ini.
Cerita diawali dari seorang sarjana Manajeman bernama Muluk (Reza Rahadian)  yang sudah hampir 2 tahun menganggur, tetapi dia tidak pernah putus asa untuk masuk beberapa kantor mencari kerja meskipun hasil yang didapat hanyalah kekecewaan. Suatu ketika kekecewaan itu bertambah karena  melihat ada seorang anak  remaja dengan enaknya mencopet dompet  milik seorang lelaki tua di tempat umum. Melihat hal itu Muluk kemudian mengejar, menangkap dan mengancamnya untuk melaporkan ke polisi. Itu adalah awalnya Muluk bisa berkenalan dengan seorang pencopet yang bernama Komet. Kemudian Komet mengajak Muluk ke Markasnya dan berkenalan dengan bos pencopet yang bernama Jarot. Para pencopet tersebut terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu copet pasar, copet mall dan copet angkot. Dari perkenalan itu membuka peluang kerja bagi Muluk. Dengan ilmu Manajemen yang dimilkinya Muluk mempunyai ide untuk mengelola keuangan para pencopet itu dan mendidik mereka agar tidak mencopet lagi serta meminta imbalan 10% dari penghasilan mereka.
Suatu ketika Muluk mengajak 2 temannya yang juga sarjana untuk membantu mendidik anak-anak jalanan yang pekerjaannya mencopet itu dan mengubah pola pikir mereka agar tidak lagi menjadi pencopet. Dua temannya adalah Syamsul (Asrul Dahlan) seorang sarjana pendidikan yang kerjanya cuma main gaple di pos ronda dan Pipit (Tika Bravani) juga sarjana/D3 yang kerjanya cuma mengikuti kuis di TV. Mereka memberikan pelajaran agama, budi pekerti, dan kewarganegaraan kepada para pencopet. Mendengar anaknya sudah mendapatkan pekerjaan ayah Muluk, Pak Makbul merasa senang. Apalagi Muluk mengaku bekerja di bagian SDM (Sumber Daya Manusia). Karena terlalu senang, Pak Makbul memberitahu kepada Haji Sarbini, ayah Rahma, calon besannya. Demikian juga Haji Rahmat, ayah Pipit, senang pula melihat anaknya sudah dapat pekerjaan dan tidak lagi hanya mengharapkan imbalan dari kuis di TV. Seperti halnya bangkai, suatu kejelekan lama-kelamaan pasti akan terungkap. Suatu saat, alangkah terkejutnya Pak Makbul, Haji Sarbini dan Haji Rahman ketika mengetahui bahwa anak-anaknya mendapat gaji dari hasil mencopet. Mereka sangat kecewa, dan mereka menangis di Mushola mohon ampun.
Secara keseluruhan film ini sudah memenuhi semua unsur-unsur film. Aktor dan aktris yang digunakan mampu memainkan film ini dengan baik. Di samping menampilkan pemain-pemain senior, film ini juga menampilkan pemain-pemain pendatang baru yang bisa menyegarkan mata para penonton yang mungkin sudah bosan dengan pemain-pemain lama. Pemain utama yaitu Reza Rahadian dapat memperkuat perannya dan memberikan penampilan dan corak akting yang khas. Alur cerita dalam film ini juga jelas sehingga penonton dapat dengan mudah dan santai mengikuti ceritanya tanpa harus terlalu serius.
Banyak sekali pesan moral yang bisa kita ambil dari film ini, begitu pula dengan kritik-kritik sosial yang disampaikan oleh film ini. Tidak seperti film-film dengan misi pendidikan lain yang terlalu banyak kritik dan pesan yang ingin disampaikan, dalam film ciptaan Musfar Yasin ini berhasil menyajikan potongan-potongan pesan moral dan kritik yang menggelitik tapi mengena. Film ini berhasil menggambarkan sebagian besar masalah bangsa yang disajikan dengan hiburan dan nilai pesan yang sarat nilai. Salah satunya adalah dalam film ini kembali mengingatkan kepada kita akan pentingnya berpikir kritis untuk membangun bangsa menjadi lebih baik. Seperti kita tahu bahwa akhir-akhir ini kebebasan berekspresi semakin dibatasi, contohnya seperti kasus Prita yang dipenjara karena protes melalui surat pembaca, seorang nenek yang dihukum karena hanya mencuri 3 buah Kokoa. Setelah melihat peritiwa-peristiwa tersebut tentunya kita sebagai masyarakat Indonesia semakin takut untuk menyampaikan pendapat. Tetapi dalam film ini kritik-kritik tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga tidak  langsung menunjuk objek yang dikritik dan tidak memberi kesan vulgar.