"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah PENULIS"
[Imam Al-Ghazali]

Kamis, 22 Desember 2011

JEPANG IMPIAN MEREKA


 
Judul        : La Tahzan for Students
Penerbit   : Lingkar Pena Publishing House
Penulis     : Lisman Suryanegara dkk
Tebal       : 266 Halaman
Kategori   : Psikologi Pendidikan
Harga       : Rp. 39.000,-
Jepang adalah salah satu negara yang paling banyak diminati oleh orang Indonesia yang berkeinginan untuk melanjutkan studi keluar negeri. Hal ini jelas dikarenakan Jepang sangatlah terkenal dengan kemajuan teknologinya, etos kerja yang tinggi, kebersihan, kedisiplinan, dan tentu saja karier yang menjanjikan selepas kelulusan. Banyak yang beranggapan bahwa dengan bisa melanjutkan studi di Jepang, kita akan menjadi sosok manusia tangguh yang tertempa dengan sempurna sebagai bekal dalam meniti kehidupan selanjutnya yang lebih nyata, yakni menjadi bagian dari masyarakat dan dapat hidup dari keahlian yang telah dimiliki.
Namun, bukan hal mudah untuk meraih kesempatan menempuh pendidikan di negeri sakura ini, meski bukan pula hal yang teramat sulit. Tekad dan kerja keras adalah dua hal penting, sebelum hal-hal penting lainnya yang mesti dimiliki oleh siapapun yang ingin mewujudkan mimpinya sekolah di Jepang. Apa saja hal penting lainnya tersebut ? Ikuti perjalanan dan kisah-kisah menarik, menyentuh dan memotivasi para mahasiswa Indonesia ini. Plus beragam tips dan trik belajar, bekerja, mensiasati hidup dari beasiswa hingga jalan-jalan murah di negeri matahari terbit ini.
Ide penulisan buku setelah 266 halaman ini berawal dari kegundahan hati seorang pelajar bernama Lisman Suryanegara. Berbagai cobaan dan rintangan pun tak bisa dipungkiri datang silih berganti, namun dengan usaha yang keras dan tak kenal putus asa, akhirnya gelar master pun dicapai dan mendapatkan kesempatan untuk langsung melangkah para program doktor. Di Jepang banyak sekali kita temukan perjuangan untuk meraih gelar master yang rasanya amat sulit. Oleh karena itu, dengan bermaksud berbagi semangat dan pengalaman dalam belajar, dia mengajak beberapa pelajar dan mantan pelajar di Jepang untuk bergabung menuliskan kisah perjuangan mereka. Tidak hanya laki-laki, ternyata penulis di buku ini malah kebanyakan adalah wanita yang jumlahnya 11 orang. Dan dapat kita ketumi kisah yang lebih rumit dan mengharukan karena harus melahirkan dan studi dalam waktu yang bersamaan. Tentu saja ini bukanlah perjuangan yang mudah, dan Anda akan senantiasa mendapatkan senyawa semangat di setiap langkah para kaum hawa penuntut ilmu ini.
Tercatat sebanyak 15 buah kisah-kisah inspiratif dari penulis yang berbeda disajikan disini. Ditambah 5 tips dalam meraih sukses di Jepang. Mulai dari tips mencari beasiswa, mencari profesor,  belajar bahasa Jepang secara mandiri, hidup murah hingga jalan-jalan murah di Jepang. Semuanya tersaji apik dengan kemasan yang menarik.
Lisman Suryanegara dkk akan mengajak para pembaca menelusuri sepak terjang para pejuang dan pemburu beasiswa untuk melanjutkan studi di Jepang ini. Beragam kisah-kisah unik dan menggelitik secara lugas dipaparkan oleh mereka. Seperti cerita Jepang dan 7 “Ter” nya versi Dina Faoziah. Dirinya adalah seorang mahasiswi asal Indonesia yang terdampar di Jepang sejak tahun 2003. Karena kedua orang tuanya sudah bosan dengan dirinya yang baru lulus dari Fakultas Ekonomi UGM setelah 7,5 tahun. Bayangkan, 7,5 tahun terus menimba ilmu.
Kepergiannya ke Jepang memang membahagiakan orang tuanya. Terbukti dirinya dibekali dua bungkus sambel buatan ibunya yang berhasil membuat air matanya bercucuran saat membukanya. Dina berangkat ke Jepang dengan beasiswa dari pemerintah Jepang alias beasiswa Monbukagakusho yang sekarang berubah nama menjadi beasiswa JASSO (Japan Student Services Organization). Dirinya memiliki versi tersendiri tentang Jepang dengan 7 “Ter” nya ini, yaitu Ternista, Terbodoh, Terkeren, Termiskin, Terdahsyat, Ter-lucky dan Terbahagia. Simak penuturan kisah kocaknya ini yang mampu membuat pembacanya geleng-geleng kepala, antara takjub dan tidak percaya.
Ada pula kisah menarik dari Sunu Hadi dengan plan ABCD nya. Dirinya yakin tidak mendapatkan perpanjangan beasiswa dari Kementerian Pendidikan Jepang alias Monbusho untuk melanjutkan S2. Selama satu tahun belajar bahasa Jepang di Tokyo, 3 tahun menyelesaikan program D3 di Ibaraki, ditambah 2 tahun lulus S1di Nagoya. Dirinya tidak pernah terlalu serius menghitung biaya kuliah dan hidup di Jepang. Hingga April 2010 adalah titik awal untuk membiayai kuliahnya sendiri. Tanpa bantuan beasiswa pemerintah maupun ayah bundanya. Serta sederet untaian penuh hikmah lainnya dari para pelajar ini.
Apabila berminat melanjutkan studi ke negara Jepang ? Ikuti tips mencari beasiswa ke Jepang ini ala Febty Febriani dan Nuraini Rahma Hanifa. Serta tips hidup murah ala Ami Mizuno dan Sri Yayu Indriyani. Tetap semangat ! Hidup Mahasiswa !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar