"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah PENULIS"
[Imam Al-Ghazali]

Senin, 19 Desember 2011

SANG PENCERAH

Satu lagi film yang disuguhkan oleh Hanung Bramantyo kepada penikmat film-film muslim yang sarat akan pesan yang dapat mengasah pengetahuan agama kita, yaitu film “Sang Pencerah” Cerita berawal dari kepulangan seorang pemuda dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah /sesat. Melalui Langgar / Surau nya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.
Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman
Banyak pesan dan hikmah yang didapat dari film Sang Pencerah ini.. pesan pertama yang saya dapat adalah “Harta yang paling berharga bagi seorang Pria adalah istri yang Sholihah”. Wah ini pesan yang dalam buat para pria.. pesan ini disampaikan pada saat Ahmad Dahlan sedang bersama Siti Walidah istrinya. Lalu ada pesan tentang agama.. Ahmad Dahlan menggambarkan “Agama ibarat sebuah alat musik, jika kita mengerti cara menggunakannya dengan baik, maka akan memberikan keindahan bagi sekelilingnya, namun jika kita tidak mengerti cara menggunakannya justru malah akan mengganggu sekeliling kita”.
Pesan lain yang saya dapat adalah sebaiknya dalam mengartikan sebuah petuah (maxim) atau wahyu, sebaiknya kita menafsirkannya bukan hanya dari segi konseptual saja, namun juga dari sisi Historis –Azhar, Muhammad. Filsafat Politik, Perbandingan Antara Islam dan Barat, 1997–. Agar para pengikut Islam  tidak tergilas oleh perubahan waktu, tidak persikap apatis dengan budaya yang diciptakan oleh peradaban yang berbeda. Walaupun harus tetap Mengacu pada Al-Quran dan Hadist, namun Sang Khaliq masih menyisahkan nalar dan common sense atau akal sehat, untuk manusia. Agar manusia berfikir dengan akal mereka sebelum bertindak dan mengambil keputusan. Pentingnya menuntut ilmu agama untuk menghindari kerusakan-kerusakan dalam kehidupan. Hal ini juga sudah ada dalam Al Qur’an yaitu setiap manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu meskipun sampai ke tempat yang jauh, untuk bisa bahagia di duni maupun di akhirat kita harus punya ilmu. Segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada ilmunya. Kemudian yang selanjutnya dalah urgensi dakwah. Dakwah dapat dilakukan di mana saja, tetapi dalam menyampaikan dakwah kita harus berhati-hati, kita harus mengerti betul tentang apa yang kita sampaikan dalam dakwah tersebut. Jangan sampai dengan dakwah kita menyebabkan orang lain salah menafsirkan. Aspek-aspek Sunnatullah yang mendukung keberhasilan dakwah: ‘Ilmu, Tauladan (Akhlak) yang baik, Sabar; istiqomah; konsistensi, dan berjama’ah. Hidayah hanyalah milik Allah, manusia hanya bisa berikhtiar dan berdo’a untuk mendapatkannya.

1 komentar: