Pernahkah anda membayangkan ada 2885 buah ayam panggang di depan mata anda? Kalau hal itu menjadi kenyataan apa yang akan anda lakukan?. Pastinya produksi air liur kita tiba-tiba akan menimgkat saat melihat makanan yang enak dan menggoda. Pemandangan itu bisa kita lihat di desa Wonosido, kecamatan Pituruh, kabupaten Purworejo. Pada saat acara bersih desa ada yang unik yaitu adanya pemandangan ayam panggang yang ditata rapi seperti pagar pada lincak sepanjang 5,5 meter dan tinggi 160 sentimeter serta lebar 120 sentimeter. Tidak hanya ayam panggang yang ditata rapi teapi juga ada berbagai hasil bumi yang juga ditata. Pada acara Merti desa kali ini di buat 39 ambeng yang menghabiskan 2885 buah ayam dengan dana sekitar Rp 150 juta. Setiap ambeng dibuat oleh tujuh warga dan yang terbesar adalah berisi 208 ayam panggang milik warga RT 01 RW 01, Dukuh Krajan dan menelan dana 22 juta rupiah lebih. Tidak hanya sampai di situ acaranya, setelah ad airing-iringan ambeng kemudain pada siang harinya ada pementasa Tayub. Meskipun hujan melanda tetapi semangat para warga tidak pudar dan tetap menyelenggarakan acara ini serta meramaikannya. Penutupan acara ditandai dengan pembagian ambeng dan ayam panggang yang telah ditata tadi. Pastinya momen yang paling ditunggu – tunggu adalah pada saat pembagian ambeng dan ayam panggang.
Bersih desa merupakan salah satu upacara adat jawa yang diselenggarakan setelah para petani panen padi. Hal ini dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur karena tanaman padi telah berhasil dipanen dan telah menghasilkan panenan yang memuaskan. Disamping itu ada juga acara adat yang dilakukan setiap tahunnya yaitu sadran. Sadran juga merupakan penghormatan terhadap para leluhur yang telah meninggal dunia terutama kepada seorang leluhur yang pertama kali mendirikan suatu desa tersebut dan mendo’akan agar dosa-dosanya diampuni oleh Tuhan, serta agar yang ditinggalkan selalu mendapatkan keselamatan, murah rejeki dan mudah dalam mencari sandang pangan.
Didalam upacara sadran terdapat beberapa proses kegiatan yaitu meliputi pengumpulan makanan yang juga ada ayam panggang, menampilkan pertunjukan wayang, berdo’a bersama yang dipimpin oleh tokoh agama lokal dan membagikan makanan yang sudah dido’akan. Itu adalah budaya yang harus dilestarikan. Bagi masyarakat jawa, kegiatan tahunan yang bernama sadranan ini merupakan ungkapan refleksi sosial keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur yang pelaksanaannya dilakukan secara kolektif. Ritual ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya nenek moyang. Tradisi ini merupakan simbol adanya hubungan dengan leluhur, sesama dan yang maha kuasa, serta sebuah ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami.
Didalam upacara sadran terdapat beberapa proses kegiatan yaitu meliputi pengumpulan makanan yang juga ada ayam panggang, menampilkan pertunjukan wayang, berdo’a bersama yang dipimpin oleh tokoh agama lokal dan membagikan makanan yang sudah dido’akan. Itu adalah budaya yang harus dilestarikan. Bagi masyarakat jawa, kegiatan tahunan yang bernama sadranan ini merupakan ungkapan refleksi sosial keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur yang pelaksanaannya dilakukan secara kolektif. Ritual ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya nenek moyang. Tradisi ini merupakan simbol adanya hubungan dengan leluhur, sesama dan yang maha kuasa, serta sebuah ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami.
Acara-acara adat seperti ini masih banyak diselenggarakan di daerah-daerah pedalaman yang masih memegang teguh adat istiadat. Namun jumlahnya tidak sebanyak zaman dulu, sekarang zaman sudah modern masyarakat mulai meninggalkan acara-acara tersebut. Selain itu, dalam salah satu agama yaitu agama islam hal tersebut dilarang karena dianggap berfoya-foya dan mubadzir, tetapi untuk kegiatan bersih desa masih diperbolehkan karena acaranya tidak ada unsure mistisnya, hanya acara membersihkan desa dan makan-makan bersama dengan kerabat serta sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahim. Banyak manfaat yang dihasilkan dari acara-acara seperti ini, kebanyakan sudah saya sebutkan di atas. Tetapi masih ada lagi yaitu bisa menarik minat wisatawan untuk datang ke Indonesia dan akan menambah devisa Negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar