Indonesia adalah Negara yang kaya dalam segala hal. Contohnya seperti kaya sumber daya alam, kaya akan budaya, kaya akan bahasa dan tak lupa juga kaya utang. Indonesia punya banyak sekali utang di sana sini, salah satunya yaitu dalam pembuatan jembatan suramadu Indonesia juga hutang untuk membiayainya. Beberapa hari yang lalu para kontraktor melakukan demonstrasi karena hak pembayaran yang seharusnya mereka terima sebesar 100 miliar rupiah tidak juga dibayar oleh Consortium of Indonesian Contractor (CIC) sebagai pemegang proyek tersebut. Biasanya yang melakukan unjuk rasa adalah para mahasiswa ataupun masyarakat kecil yang merasa tertindas dan menyalurkan aspirasinya tetapi kali ini bukan, orang-orang yang kedudukannya di atas juga memilih untuk unjuk rasa dalam menyalurkan aspirasinya.
Aksi unjuk rasa itu terjadi karena tidak adanya respons dari pemerintah maupun CIC. Berulang kali 13 vendor mengirimkan surat untuk mempertanyakan penyelesaian tunggakan utang. Namun, tidak ada langkah signifikan atas tuntutan itu. Setelah kesabaran mereka habis, mereka memutuskan untuk turun ke jalan disertai dengan para karyawan yang diperkirakan berjumlah 300 orang. Mereka berunjuk rasa di dekat jembatan suramadu. Aksi tersebut adalah alternatif terakhir karena pihak vendor sudah melakukan negosiasi kepada pemerintah maupun pihak CIC tetapi tidak ada hasilnya.
Negosiasi tersebut berupa pengajuan surat untuk dialog dan mempertanyakan kepastian pembayaran, tetapi upaya tersebut ttidak mendapatkan perhatian sama sekali. Wakil 13 vendor yang akan turun ke jalan adalah Antara Koh Pte Ltd, PT Indo Beton, PT Sinar Indah Perkasa, PT Standar Beton Indonesia, PT VSI Indonesia, PT Kurnia Lautan Abadi Perkasa, PT Hanil Jaya Steel, PT Sarana Inter Pasific, PD Alethea Teknik, PT Subur Buana Raya, PT Sinar Kencana Jaya, PT Duta Mulya, dan CV Electro Fajar.
Utang tersebut adalah modal yang akan digunakan lagi untuk mengembangkan usaha. Dengan tidak dibayarnya utang tersebut secara tidak langsung akan mengganggu proyek-proyek lain yang ditangani oleh para vendor dan dampak yang diakibatkan sangat besar. Padahal jembatan yang dipermasalahkan sudah lama beroperasi, tetapi tidak ada upaya dari pihak CIC ataupun pemerintah untuk membayar hutang atas pembangunan jembatan suramadu. Beginilah masalah-masalah yang sering dihadapi oleh para kontraktor sehingga bagi mereka yang tidak kuat iman akan mengerjakan proyek pembuatan jembatan itu dengan asal-asalan tidak sesuai dengan prosedur yang benar. Akibatnya kualitas jembatan yang dihasiilkan akan buruk dan tidak tahan lama, baru beberapa tahun saja sudah ambruk dan rusak. Contohnya seperti jembatan kukar di Kalimantan. Jembatan itu baru saja di bangun beberaapa tahun yang lalu, tetapi sekarang sudah runtuh. Hal ini sangat memprihatinkan. Tetapi selain dari sisi kinerja kontraktor masih ada banyak alasan mengapa kualitas suatu jembatan menjadi buruk dan mudah runtuh.
Banyak baut-baut dan besi-besi penyangga jembatan tersebut yang dicuri oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka melakukan hal ini karena himpitan ekonomi. Selain itu juga ada pihak-pihak yang memotong anggaran dana untuk pembuatan jembatan tersebut secara legal dan menggunakan dana tersebut untuk kepentingan pribadi. Sehingga dengan dana yang kurang maka akan menghasilkan jembatan yang berkualitas rendan dan tidak tahan lama. Perlu adanya kesadaran dari semua pihak dan sadar atas tanggung jawabnya untuk menjaga fasilitas umum yang juga digunakan oleh orang banyak.
wahhh bahaya tuhh,,,, siapa yang mau bayarrr,,,,
BalasHapusmasak rakyatnya yang bayar??? pemerintahnya enak2an korupsi
saya sebagai rakyat MALES