Sebuah film terbaik kembali hadir meramaikan kancah perfilman Indonesia , yaitu Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Film ini dimainkan oleh Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Miharja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia, dan Angga. Film yang disutradarai ole Dedy Mizwar ini mengungkap banyak bidang permasalahan yang sedang dihadapi oleh Negeri kita tercinta (Indonesia), seperti ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kriminalitas, generasi muda, agama, pengangguran, kekerasan, dan semangat materialism. Meskipun yang diungkap cukup banyak tetapi film ini juga banyak disertai dengan humor-humor yang bisa menghibur penontonnya dan membantu penonton untuk lebih mudah dalam menyerap pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini, sehingga para penikmat film ini tidak akan merasa jenuh dan bosan saat menonton film ini.
Cerita diawali dari seorang sarjana Manajeman bernama Muluk (Reza Rahadian) yang sudah hampir 2 tahun menganggur, tetapi dia tidak pernah putus asa untuk masuk beberapa kantor mencari kerja meskipun hasil yang didapat hanyalah kekecewaan. Suatu ketika kekecewaan itu bertambah karena melihat ada seorang anak remaja dengan enaknya mencopet dompet milik seorang lelaki tua di tempat umum. Melihat hal itu Muluk kemudian mengejar, menangkap dan mengancamnya untuk melaporkan ke polisi. Itu adalah awalnya Muluk bisa berkenalan dengan seorang pencopet yang bernama Komet. Kemudian Komet mengajak Muluk ke Markasnya dan berkenalan dengan bos pencopet yang bernama Jarot. Para pencopet tersebut terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu copet pasar, copet mall dan copet angkot. Dari perkenalan itu membuka peluang kerja bagi Muluk. Dengan ilmu Manajemen yang dimilkinya Muluk mempunyai ide untuk mengelola keuangan para pencopet itu dan mendidik mereka agar tidak mencopet lagi serta meminta imbalan 10% dari penghasilan mereka.
Suatu ketika Muluk mengajak 2 temannya yang juga sarjana untuk membantu mendidik anak-anak jalanan yang pekerjaannya mencopet itu dan mengubah pola pikir mereka agar tidak lagi menjadi pencopet. Dua temannya adalah Syamsul (Asrul Dahlan) seorang sarjana pendidikan yang kerjanya cuma main gaple di pos ronda dan Pipit (Tika Bravani) juga sarjana/D3 yang kerjanya cuma mengikuti kuis di TV. Mereka memberikan pelajaran agama, budi pekerti, dan kewarganegaraan kepada para pencopet. Mendengar anaknya sudah mendapatkan pekerjaan ayah Muluk, Pak Makbul merasa senang. Apalagi Muluk mengaku bekerja di bagian SDM (Sumber Daya Manusia). Karena terlalu senang, Pak Makbul memberitahu kepada Haji Sarbini, ayah Rahma, calon besannya. Demikian juga Haji Rahmat, ayah Pipit, senang pula melihat anaknya sudah dapat pekerjaan dan tidak lagi hanya mengharapkan imbalan dari kuis di TV. Seperti halnya bangkai, suatu kejelekan lama-kelamaan pasti akan terungkap. Suatu saat, alangkah terkejutnya Pak Makbul, Haji Sarbini dan Haji Rahman ketika mengetahui bahwa anak-anaknya mendapat gaji dari hasil mencopet. Mereka sangat kecewa, dan mereka menangis di Mushola mohon ampun.
Secara keseluruhan film ini sudah memenuhi semua unsur-unsur film. Aktor dan aktris yang digunakan mampu memainkan film ini dengan baik. Di samping menampilkan pemain-pemain senior, film ini juga menampilkan pemain-pemain pendatang baru yang bisa menyegarkan mata para penonton yang mungkin sudah bosan dengan pemain-pemain lama. Pemain utama yaitu Reza Rahadian dapat memperkuat perannya dan memberikan penampilan dan corak akting yang khas. Alur cerita dalam film ini juga jelas sehingga penonton dapat dengan mudah dan santai mengikuti ceritanya tanpa harus terlalu serius.
Banyak sekali pesan moral yang bisa kita ambil dari film ini, begitu pula dengan kritik-kritik sosial yang disampaikan oleh film ini. Tidak seperti film-film dengan misi pendidikan lain yang terlalu banyak kritik dan pesan yang ingin disampaikan, dalam film ciptaan Musfar Yasin ini berhasil menyajikan potongan-potongan pesan moral dan kritik yang menggelitik tapi mengena. Film ini berhasil menggambarkan sebagian besar masalah bangsa yang disajikan dengan hiburan dan nilai pesan yang sarat nilai. Salah satunya adalah dalam film ini kembali mengingatkan kepada kita akan pentingnya berpikir kritis untuk membangun bangsa menjadi lebih baik. Seperti kita tahu bahwa akhir-akhir ini kebebasan berekspresi semakin dibatasi, contohnya seperti kasus Prita yang dipenjara karena protes melalui surat pembaca, seorang nenek yang dihukum karena hanya mencuri 3 buah Kokoa. Setelah melihat peritiwa-peristiwa tersebut tentunya kita sebagai masyarakat Indonesia semakin takut untuk menyampaikan pendapat. Tetapi dalam film ini kritik-kritik tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga tidak langsung menunjuk objek yang dikritik dan tidak memberi kesan vulgar.
benar alangkah lucunya negeri ini....
BalasHapussaya merasa lucu tinggal di indonesia,,,,
lucu..lucu,,,lebih lucu dari sule,,,
filmnya kerennnn